Sabtu, 23 Agustus 2014

Keindahan Dibalik Kota Kecil (Sukabumi)

Keindahan Dibalik Kota Kecil (Sukabumi)

REP | 28 October 2013 | 21:11 Dibaca: 368   Komentar: 2    1

13829687972136757684Saya akan menceritakan sedikit keindahan kota kecil, ya sebuah kota kecil yang bernama Sukabumi. Tidak banyak orang yang tahu tentang Sukabumi, jika tahu mungkin mereka hanya tahu mochi. Mochi adalah oleh-oleh khas sukabumi. Yaitu sebuah makanan yang terbuat dari tepung maizena (aci dalam bahasa sunda) dan berisi aneka macam isian, keju, coklat, kacang sampai selai strawberry. Dan menurut orang-orang rasanya enak…
Selain mochi di Sukabumi juga terdapat Situ Gunung dan Curug Sawer. Menurut legenda masyarakat lokal di Sukabumi, Situ Gunung bukanlah danau alam, itu adalah sebuah danau buatan manusia. Orang-orang mengatakan bahwa pencipta danau itu Rangga Jagad Syhadana, seorang bangsawan dari Kerajaan Mataram.
1382969241665141562
Di Sukabumi, pria yang berasal dari Kerajaan Mataram itu dikenal sebagai Mbah Jalun. Selama masa kolonial sekitar tahun 1800-an, Mbah Jalun melarikan diri dari Kerajaan Mataram. Setelah bersembunyi di beberapa Kesultanan di Jawa Tengah, Mbah Jalun akhirnya tinggal di Kesultanan Banten. Selama perjalanannya sebagai seorang buron, Mbah Jalun mampir di daerah Kuningan, Jawa Barat. Disini Mbah Jalun menikah dengan seorang wanita dari Kuningan. Bersama dengan istrinya, Mbah Jalun kemudian melanjutkan perjalanannya ke Cianjur. Mereka melewati Gunung Gede Pangrango, sampai akhirnya Mbah Jalun dan istrinya tinggal di sebuah lembah di kaki Gunung Pangrango di daerah Sukabumi.
Pada tahun 1814, Mbah Jalun memiliki seorang putra bernama Rangga Jaka Lulunta. Dikatakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Sang Pencipta untuk putra pertama mereka, Mbah Jalun membuat danau. Selesai membuat danau dengan menggunakan peralatan sederhana dalam waktu 7 hari. Ia menyebut danau Situ Gunung, danau yang terletak di kaki gunung.
Sejak itu sampai sekarang, danau ini disebut Situ Gunung. Air danau berasal dari air terjun Curug Cimanaracun, terletak sekitar 50 meter dari danau. Masyarakat lokal Sukabumi percaya bahwa debit air danau tidak akan pernah surut, meskipun musim kemarau tiba. Mereka juga percaya bahwa air danau akan berkurang dengan sendirinya ketika akan dibersihkan. Konon, semua rangkaian Curug Sawer  tersebut tercipta setelah seorang sakti yang tinggal di kaki gunung Ciremai, yang merupakan leluhur masyarakat Argalingga, menyelenggarakan upacara Saweran di sungai Cipada untuk mendapat berkah Tuhan bagi dirinya dan semua keturunannya. Selanjutnya, ia bertapa selama bertahun-tahun hingga wafat. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat, jasad pertapa itu tidak hancur melainkan menjelma seekor ular raksasa yang kemudian hidup secara gaib dan menjadi penjaga kawasan tersebut. Selama tapanya, terjadi banyak peristiwa alam yang luar biasa sehingga di sepanjang aliran sungai muncul sebauh curug yang airnya memancar menyerupai upacara saweran. Itulah sebabnya, curug ini dinamakan Curug Sawer.
13829693981792259858
Nah walaupun saya orang sukabumi asli, tapi sebelumnya saya tidak pernah mengunjungi situ gunung maupun curug sawer, maklum anak gaul maenannya mallhaha
Sampai akhirnya pada acara perpisahan dengan teman-teman SMA kami memutuskan untuk pergi ke situ gunung dan curug sawer. Lucunya walaupun kami semua orang sukabumi tidak ada satupun diantara kami pernah ke curug yang memiliki tinggi 25-30 meter ini.
Pagi itu sangat cerah kami kumpul di jalan I.R. H Juanda Sukabumi. Saya pikir langit pun mendukung rencana kami untuk pergi ke curug, karena menurut orang-orang jalan menuju curug cukup ekstrim sehingga jika hari hujan tidak mungkin untuk melalui jalan tersebut. Setelah sampai di tempat wisata yang berada di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi ini, kami sangat bersemangat. Ya karena ini perjalanan pertama kami ke curug sawer sekaligus ingin membuktikan apa kata masyarakat sekitar bahwa medan kesana ini lumayan berat. Pada awal perjalanan memang jalannya belum terlalu sulit, batu-batu tersusun membentuk jalan dan terlihat sudah berlumut sehingga membuat pijakan menjadi sedikit licin. Pohon-pohon lebat menghalangi sinar matahari untuk masuk dan membuat perjalanan kami sangat sejuk. Terkadang kami melewati rombongan orang tua, ya karena semangat dan stamina anak muda yang membuat kami berjalan lebih cepat.1382969148295626033
Sebenarnya jalannya tidak terlalu sulit, hanya saja banyak sekali turunan dan tanjakan yang sering membuat para pejalan kaki menjadi lebih capek. Apalagi ditambah dengan pijakan yang hanya dari batu yang berlumut dan tanah-tanah yang basah. Sepanjang perjalanan banyak ditemukan aliran-aliran air yang katanya bisa diminum langsung dan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tapi saya tidak terlalu percaya hal itu, yang jelas airnya dingin sekali bisa dibilang sedingin air es.
Setelah berjalan sekitar 1,5 jam, akhirnya kami sampai di Curug Sawer. Sekitar air terjunnya sangat sejuk, ditambah percikan air yang memantul ke atas yang dipadukan dengan sinar matahari membentuk pelangi. Sehingga seolah-olah pelangi tersebut dapat kita sentuh. Nah yang paling menarik, jika kita duduk dibawah air terjunnya, karena derasnya air terjun membuat kita seperti dipijit ketika saya mencobanya dan hal itu memang benar.
Nah setelah puas di curug dan kembali “berjalan”, dan capek pastinya. Kami pergi ke situ, situ gunung tepatnya. Letaknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk obyek wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sekitar 500 meter saja. Setelah capek berjalan, semuanya keletihan bisa hilang dengan menikmati pemandangan sekitar situ. Air situ yang lumayan jernih, dan situ yang dikelilingi peohonan yang rindang sangat menyejukkan badan ini yang kelelahan. Bahkan jika kita beruntung ada semacam kayak yang bisa kita naiki untuk sekedar berkililing situ, dan bisa didapat sesuai harga tentunya. Disekitar situ terdapat hamparan rumput yang sangat nikmat bila kita tiduri. Sayangnya fasilitas umum disini tidak terawat, toilet yang kotor dan rusak sampai mushola yang tidak terawat. Tapi dibalik semua itu, keindahannya membuka mata saya bahwa sukabumi, kota yang sudah kutinggali selama hampir 18 tahun mempunyai pesona alam yang sangat indah. Dan membuat saya berpikir untuk apa kita liburan ke luar negeri jika di dalam negeri saja masih banyak tempat-tempat indah yang belum kita kunjungi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar